Para
pembaca yang mulia- semoga Allah subhanahu wata’ala
merahmati kita semua-, Allah subhanahu wata’ala Yang
Maha Adil dan Maha Bijaksana telah menetapkan bahwa di
antara hamba-hamba-Nya akan ada yang mengalami hidup
bahagia dan akan ada yang mengalami hidup sengsara.
Namun Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat Yang Maha
Pengasih lagi Penyayang, melalui lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi
wasallam, Dia subhanahu wata’ala juga telah menunjukkan
kepada umat manusia ini mana jalan yang akan
mengantarkan kepada hidup bahagia dan mana jalan yang
akan menjerumuskan kepada jurang kesengsaraan.
Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk
mengetahui dan mempelajari serta kemudian mematuhi dan
mengamalkan rambu-rambu yang telah terpasang di jalan
yang menuju kepada hidup bahagia tersebut. Allah
subhanahu wata’ala sebagai pemilik kehidupan ini telah
menegaskan dalam Al Qur’an (artinya):
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang bahagia.” (An Nahl: 97)
Allah subhanahu wata’ala mensyaratkan kepada seorang mukmin yang menginginkan hidup bahagia, agar mereka beramal shalih. Allah subhanahu wata’ala berjanji, barangsiapa yang beramal shalih niscaya akan dimasukkan ke dalam Jannah-Nya. Sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Barangsiapa yang beramal shalih baik laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka mereka akan masuk ke dalam Al Jannah dan mereka tidak akan dianiaya sedikitpun.” (An Nisa’: 124)
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang bahagia.” (An Nahl: 97)
Allah subhanahu wata’ala mensyaratkan kepada seorang mukmin yang menginginkan hidup bahagia, agar mereka beramal shalih. Allah subhanahu wata’ala berjanji, barangsiapa yang beramal shalih niscaya akan dimasukkan ke dalam Jannah-Nya. Sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Barangsiapa yang beramal shalih baik laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka mereka akan masuk ke dalam Al Jannah dan mereka tidak akan dianiaya sedikitpun.” (An Nisa’: 124)
Apakah Amal Shalih itu?
Tidaklah semua amal baik yang dilakukan oleh seseorang bisa dikatakan sebagai amalan shalih yang diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Seperti yang telah dikhabarkan oleh nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
Tidaklah semua amal baik yang dilakukan oleh seseorang bisa dikatakan sebagai amalan shalih yang diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. Seperti yang telah dikhabarkan oleh nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعُ, وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهْرُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tidaklah dia
mendapatkan pahala kecuali sekedar rasa lapar, dan
betapa banyak orang yang menegakkan shalat malam,
tidaklah dia mendapatkan pahala kecuali sekedar
bergadang saja.” (HR. Ibnu Majah, An Nasa’i)
Lihatlah wahai pembaca yang mulia, ternyata amalan
puasa dan shalat malam yang dilakukan, tidak memberikan
manfaat bagi dirinya, Allah subhanahu wata’ala tidak
menerima amalan tersebut, tidak memberi pahala
kepadanya, dan yang ia peroleh hanya sebatas rasa lapar
dan payah belaka.
Karena Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya
shalallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan dalam
syari’at Islam ini, bahwa suatu amalan disebut amal
shalih yang diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala
jika terpenuhi padanya dua syarat:
Syarat Pertama adalah
Ikhlas, yakni amalan yang dilakukan itu semata-mata
hanya untuk mengharapkan ridha Allah subhanahu
wata’ala, bukan karena terpaksa atau karena
mengharapkan pujian orang lain, ataupun dalam rangka untuk mencari
jabatan, kekayaan, popularitas dan semisalnya dari
perkara-perkara duniawi.
Syarat Kedua
haruslah amalan itu sesuai dengan tuntunan/ajaran
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada
tuntunan (ajaran)nya dari kami, maka amalan itu akan
tertolak (di sisi Allah subhanahu wata’ala).” (HR.
Muslim)
Bagaimana bisa seperti itu? Kita ambil contoh amalan
shalat. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah
mengajarkan kepada umatnya bahwa shalat Maghrib itu
tiga raka’at. Maka barangsiapa yang mengerjakan shalat
Maghrib empat raka’at, tentu shalatnya tidak sah dan secara
otomatis akan tertolak di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Kedua syarat itulah pada hakekatnya merupakan
realisasi dari Asy Syahadatain (dua kalimat Syahadat:
Laa Ilaaha Illallah – Muhammadurrasulullah). Ketika
seseorang telah mengikrarkan bahwa Allah subhanahu
wata’ala lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk
diibadahi, maka sudah seharusnya bagi dia untuk mempersembahkan
seluruh ibadahnya ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala. Dan
ketika dia telah menyatakan bahwa Muhammad shalallahu
‘alaihi wasallam adalah Rasulullah, maka hendaknya dia
siap, tunduk, dan patuh untuk menjalankan ibadah kepada
Allah subhanahu wata’ala sesuai dengan tuntunan/ajaran
Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.
Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Barang
siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka
hendaknya dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia
mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah
kepada-Nya.” (Al Kahfi: 110)
Al Imam Ibnu Katsir mengatakan: Ini adalah dua rukun
amalan agar diterima (di sisi Allah subhanahu
wata’ala), yaitu Ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala
dan sesuai dengan tuntunan/ajaran Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam.
Jika hilang salah satu dari kedua syarat tersebut,
maka amalan seseorang akan tertolak dan tidak ada
nilainya di sisi Allah subhanahu wata’ala. Maka
barangsiapa yang beramal dengan niatan ikhlas karena
Allah subhanahu wata’ala, namun tidak sesuai dengan tuntunan Nabi
Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalannya
tertolak, dan sebaliknya barangsiapa yang beramal
dengan amalan yang sesuai dengan tuntunan/ajaran
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak
ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala, maka amalannya
pun juga tertolak.
Peranan Niat dalam Amalan dan Kewajiban Ikhlas di dalamnyaSetiap amalan itu tergantung pada niatnya sebagaimana sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan (dari amalannya) sesuai dengan niatannya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang beramal dengan niatan ikhlas untuk
mendapatkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu
wata’ala, dia akan mendapatkannya Insya Allah. Dan
barangsiapa yang beramal namun dengan niatan untuk
mendapatkan perkara yang sifatnya materi (duniawi) dan tidak
ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala, maka amalan itu tidak
ada nilainya di sisi Allah subhanahu wata’ala. Boleh jadi
dia akan mendapatkan apa yang diinginkan tersebut, tapi
Allah subhanahu wata’ala tidak akan memberikan
keridhaan-Nya kepadanya, bahkan Allah subhanahu
wata’ala mengancam orang yang seperti ini dengan
firman-Nya (artinya):
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan usaha mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali An Nar (neraka) dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan usaha mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali An Nar (neraka) dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)
Betapa pentingnya permasalahan ikhlas ini,
sampai-sampai Al Imam An Nawawi menjadikan wajibnya
ikhlas sebagai bab pertama dalam kitab beliau yang
barakah Riyadhush Shalihin.
Adapun dalil yang menunjukkan wajibnya ikhlas dalam semua amalan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala adalah firman-Nya (artinya): “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.” (Al Bayyinah: 5)
Adapun dalil yang menunjukkan wajibnya ikhlas dalam semua amalan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala adalah firman-Nya (artinya): “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.” (Al Bayyinah: 5)
Seseorang yang beramal bukan dalam rangka mengharap
ridha Allah subhanahu wata’ala, berarti dia telah
menjadikan sekutu dan tandingan bagi Allah subhanahu
wata’ala dalam ibadah. Inilah kesyirikan yang dilarang
dalam agama ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman
dalam sebuah hadits qudsi:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Barang siapa yang beramal dengan mempersekutukan Aku
dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan (tidak
mempedulikan) pelakunya dan perbuatannya.” (HR. Muslim)
Orang yang berbuat syirik kepada Allah subhanahu
wata’ala, maka amalannya akan terhapus dan tertolak di
sisi Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala
berfirman (artinya): “Jika engkau berbuat syirik, maka
sungguh amalan-amalanmu akan terhapus dan engkau
termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65)
Tipu Daya Iblis
Para pembaca, tentunya kita tidak lupa akan perbuatan Iblis yang membangkang ketika Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepadanya untuk sujud kepada Nabi Adam ?. Allah subhanahu wata’ala mengusir Iblis dari Al Jannah, maka Iblis menyatakan sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala kisahkan dalam Al Qur’an (artinya):
“Iblis berkata: “Wahai Rabbku, oleh sebab Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan menjadikan mereka (anak cucu Adam) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.” (Al Hijr: 39-40)
Para pembaca, tentunya kita tidak lupa akan perbuatan Iblis yang membangkang ketika Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepadanya untuk sujud kepada Nabi Adam ?. Allah subhanahu wata’ala mengusir Iblis dari Al Jannah, maka Iblis menyatakan sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala kisahkan dalam Al Qur’an (artinya):
“Iblis berkata: “Wahai Rabbku, oleh sebab Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan menjadikan mereka (anak cucu Adam) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.” (Al Hijr: 39-40)
Iblis bertekad untuk menyesatkan umat manusia ini
seluruhnya, kemudian Iblis mengecualikan orang-orang
yang ikhlas, karena Iblis tidak akan mampu untuk
menyesatkan mereka.
Ini menunjukkan bahwa misi utama Iblis adalah
menyesatkan umat manusia dari jalan Allah subhanahu
wata’ala dengan memalingkan mereka dari keikhlasan
kepada-Nya ?.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ
“Sesungguhnya setan akan selalu hadir menggoda salah
seorang diantara kalian pada setiap keadaannya.” (HR.
Muslim)
Hendaknya kita semua berhati-hati dari makar setan
ini, karena setan senantiasa akan menggoda,
menyesatkan, dan memalingkan kita dari keikhlasan
kepada Allah subhanahu wata’ala. Senantiasa kita
koreksi niat-niat kita dalam beramal. Semoga Allah subhanahu wata’ala
menjadikan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang
Mukhlishin.
Akibat tidak Ikhlas
Berikut ini akan kami sampaikan sebuah hadits nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menceritakan keadaan orang-orang yang tidak ikhlas dalam amalannya, Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya):
“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat nanti adalah seseorang yang mati syahid, dimana dia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, kemudian ditanya: Apakah yang kamu gunakan terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Saya berjuang di jalan-Mu sehingga saya mati syahid. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu berjuang (dengan niat) agar dikatakan sebagai pemberani, dan hal itu sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang tersebut yang akhirnya dia dilemparkan ke An Nar (neraka).
Kedua, seseorang yang belajar dan mengajar serta suka membaca Al Qur’an, dia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, kemudian ditanya: Apakah yang kamu gunakan terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Saya telah belajar dan mengajarkan Al Qur’an untuk-Mu. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu belajar Al Qur’an (dengan niat)agar dikatakan sebagai orang yang alim (pintar), dan kamu membaca Al Qur’an agar dikatan sebagai seorang Qari’ (ahli membaca Al Qur’an), dan hal itu sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang itu yang akhirnya dia dilemparkan ke dalam An Nar.
Ketiga, seseorang yang dilapangkan rizkinya dan dikaruniai berbagai macam kekayaan, lalu dia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, kemudian ditanya: Apakah yang kamu gunakan terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Tidak pernah aku tinggalkan suatu jalan yang Engkau sukai untuk berinfaq kepadanya, kecuali pasti aku akan berinfaq karena Engkau. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu berbuat itu (dengan niat) agar dikatakan sebagai orang yang dermawan, dan hal itu sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang tersebut yang akhirnya dia dilemparkan ke dalam An Nar.” (HR. Muslim)
Berikut ini akan kami sampaikan sebuah hadits nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menceritakan keadaan orang-orang yang tidak ikhlas dalam amalannya, Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya):
“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat nanti adalah seseorang yang mati syahid, dimana dia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, kemudian ditanya: Apakah yang kamu gunakan terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Saya berjuang di jalan-Mu sehingga saya mati syahid. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu berjuang (dengan niat) agar dikatakan sebagai pemberani, dan hal itu sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang tersebut yang akhirnya dia dilemparkan ke An Nar (neraka).
Kedua, seseorang yang belajar dan mengajar serta suka membaca Al Qur’an, dia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, kemudian ditanya: Apakah yang kamu gunakan terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Saya telah belajar dan mengajarkan Al Qur’an untuk-Mu. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu belajar Al Qur’an (dengan niat)agar dikatakan sebagai orang yang alim (pintar), dan kamu membaca Al Qur’an agar dikatan sebagai seorang Qari’ (ahli membaca Al Qur’an), dan hal itu sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang itu yang akhirnya dia dilemparkan ke dalam An Nar.
Ketiga, seseorang yang dilapangkan rizkinya dan dikaruniai berbagai macam kekayaan, lalu dia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, kemudian ditanya: Apakah yang kamu gunakan terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Tidak pernah aku tinggalkan suatu jalan yang Engkau sukai untuk berinfaq kepadanya, kecuali pasti aku akan berinfaq karena Engkau. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu berbuat itu (dengan niat) agar dikatakan sebagai orang yang dermawan, dan hal itu sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang tersebut yang akhirnya dia dilemparkan ke dalam An Nar.” (HR. Muslim)
Demikianlah ketiga orang yang beramal dengan amalan
mulia tetapi tidak didasari keikhlasan kepada Allah
subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala lemparkan
mereka ke dalam An Nar. Semoga kita termasuk
orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari kisah
tersebut.
nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عز وجل لاَ
يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ
عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ..
“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya dalam
rangka untuk mengharap wajah Allah, tetapi ternyata
tidaklah dia menuntutnya kecuali hanya untuk meraih
sebagian dari perkara dunia, maka dia tidak akan
mendapatkan aroma Al Jannah pada hari kiamat nanti.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah)
Akhir kata, semoga ulasan edisi kali ini mendorong kita untuk selalu mengoreksi ibadah yang telah kita lakukan baik kualitas maupun kuantitasnya. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni kekurangan-kekurangan ibadah kita yang telah lalu dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhlishin. Amin, Ya Rabbal alamin.
Akhir kata, semoga ulasan edisi kali ini mendorong kita untuk selalu mengoreksi ibadah yang telah kita lakukan baik kualitas maupun kuantitasnya. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni kekurangan-kekurangan ibadah kita yang telah lalu dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhlishin. Amin, Ya Rabbal alamin.
Mutiara Faedah
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang berwudhu’ lalu berjalan menuju rumah Allah (masjid) untuk menunaikan kewajiban shalat yang telah diwajibkan oleh Allah, maka salah satu langkah kakinya dapat menghapus dosa dan langkah lainnya dapat mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah rashiallahu ‘anhu)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang berwudhu’ lalu berjalan menuju rumah Allah (masjid) untuk menunaikan kewajiban shalat yang telah diwajibkan oleh Allah, maka salah satu langkah kakinya dapat menghapus dosa dan langkah lainnya dapat mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah rashiallahu ‘anhu)
Masjid merupakan syi’ar agama Islam yang perlu dijaga
dan dilestarikan, bukan hanya dari sisi fisiknya saja,
namun yang paling utama adalah meramaikan masjid itu
dengan menghidupkan berbagai macam kegiatan (ibadah)
yang dianjurkan oleh syariat, seperti menghidupkan sholat
jama’ah lima waktu.
Allah subhanahu wata’ala adalah Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang sehingga tidak akan menyia-nyiakan amalan
seseorang, bahkan Allah subhanahu wata’ala membalasnya
dengan jauh lebih baik dari apa yang ia kerjakan,
sebagaimana hadits di atas.
Categories: Aqidah




























